KISAH INSPIRATIF GURU SEJATI & POLITIKUS HAKIKI

Kisah Inspiratif Guru Sejati & Politikus Hakiki

   Buku ini diangkat dari kisah nyata tentang kehidupan, perjuangan dan perjalanan panjang seorang Guru, Kiyai dan Ulama sekaligus Umara, K.H Muhammad Nadjmi Qadir. Guru Nadjmi dikenal sebagai pemimpin Pondok Pesantren As'ad Kota Jambi, dimana lembaga tersebut merupakan tempat saya menimba ilmu selama kurang lebih 6 tahun. Namun, ketertarikan saya dalam membaca buku ini bukan karna asal sekolah saya tetapi karna kisa inspiratif beliau yang sangat memotifasi dan memberi banyak pelajaran. Tekad dan motivasi demi sebuah karya sederhana sebagai pengobat rindu bagi masyarakat, para pendidik dan lebih khusus bagi murid-murid Guru Nadjmi. 

   Tuan guru Muhammad Nadjmi Qadir adalah seorang guru sejati dan politikus hakiki. Puluhan tahun mengabdi sebagai guru, beliau tidak mengambil gaji. Sembilan periode menjadi wakil rakyat, kadang gajinya dihibahkan untuk umat. Sungguh pengabdian hebat dari sosok Guru Nadjmi. Kehebatan itu kian sempurna ketika beliau mempersunting seorang perempuan cantik dan tangguh bernama Ulya binti H.Abdul Syukur. Cucu seorang hartawan kaya nan dermawan, H.Taher bin H.Saifuddin. 

   Seberang Kota Jambi orang menyebutnya (Sekoja). tapi sebagian lainnya tidak mau disebut begitu, katanya yang benar adalah "Jambi Kota Seberang" bukan "Seberang Kota Jambi". Mereka yang bilang "Jambi Kota Seberang" tak berani menyingkatnya, mungkin karena tak enak disebut. Masyarakat sekarang masih memegang erat adat dan istiadat nya. Serta memiliki gaya bahasa yang sedikit berbeda dengan masyarakat Kota Jambi. padahal jaraknya hanya dibatasa oleh sungai batanghari. Jika berbicara, terdengar seperti bersyair, mendayu-dayu dan memiliki cengkok. Ketika orang seberang berbicara, maka orang yang bukan dari seberang langsung tau bahwa itu suara orang seberang. Selain itu karna adat istiadatnya, seberang juga dikenal sebagai kota santri. Tsamaratul Insan sebagai organisasi pendahulunya. Lebih tepatnya "Organisasi Perukunan Tsamaratul Insan", sebagai induk yang melahirkan generasi dan sebagai pelopor yang menjadikan Seberang sebagai kota santri. Salah satu program kerja dalam perukunan ini adalah menganjurkan agar setiap anggotanya mendirikan sebuah lembaga pendidikan islam disetiap kampung mereka. 

Kita sering mendengar ungkapan “Pengalaman Adalah Guru Terbaik”. Hanya saja, ada banyak manusia yang pengalaman hidupnya tidak panjang dan lama, bahkan terjal mendaki, namun tak jua menjadikannya pelajaran. Ada juga manusia yang cenderung tidak punya pengalaman kecuali sedikit, namun sepak terjang dan pengabdiannya melesat kencang membawa perubahan.

Seorang lelaki tangguh bak Marcopolo, abah dari Tuan Guru Muhammad Nadjmi Qadir bernama Abdul Qadir Jailani bin Ibrahim bin Abdul Majid bin Muhammad Yusuf bin Abid bin Jantan bergelar sri penghulu yang dilahirkan pada tanggal 11 agustus 1914. Seorang pemuda yang perawakannya biasa saja, tekstur wajahnya keras, tulang rahangnya terlihat jelas, batang hidungnya mancung tapi ujung hidung agak dempak. Para pendahulu mengatakan, bentuk hidung seperti itu merupakan ciri manusia hebat, tahan banting, keras kepala namun santun dan memiliki kecerdasan di atas rata-rata serta berkharisma. Penamaan Abdul Qadir Jailani diberikan abahnya untuk mengenang kakeknya yang meninggal dalam perjalanan pulang dari Baghdad ke Mekah untuk menziarahi makam Syekh Abdul Qadir Jaelani atau Abd Al-Qadir Al-Gilani yang berasal Kurdi (Iran).

Tuan Guru Muhammad Nadjmi Qadir adalah seorang Guru Sejati Dan Politikus Hakiki. Puluhan tahun mengabdi sebagai seorang guru, beliau tidak mengambil gaji. Sembilan periode menjadi wakil rakyat, kadang gajinya dihibahkan untuk umat. Sungguh pengabdian hebat dari sosok Guru Nadjmi. Kehebatan itu kian sempurna ketika beliau mempersunting seorang perempuan cantik dan tangguh Bernama Ulya Binti H. Abdul Syukur. Cucu seorang hartawan kaya nan dermawan, H. Taher Bin H. Saifuddin.

Guru Nadjmi dilahirkan dari rahim seorang perempuan istimewa, kuat, penyabar dan penuh kasih sayang, Hj. Zainab namanya. Dan ayahnya KH. Abdul Qodir merupakan ulama sekaligus umara yang telah berjasa dalam pengembangan syiar islam di Tanah Melayu Jambi. Masa kecil Guru Nadjmi penuh dengan lika liku perjuangan. Mulai dari tingkat dasar, waktu itu masih bernama sekolah rakyat, sampai dengan merantau menjadi mahasiswa di ibu kota, tanpa kawan, tanpa membawa nama besar orang tuanya ia mendaftar sendiri.

Kesimpulan topik

Tujuan membaca pada teks ini yaitu untuk menambah motivasi dan wawasan dari sebuah pengalaman seseorang. Menjadikan pembelajaran dan mengambil nilai positif untuk dijadikan contoh dalam segala hal. Membaca bukanlah hobi saya tapi, buku ini berhasil membuat saya luluh sehingga dapat menyelesaikannya. Bukan karena latar belakang tokoh yang merupakan pendiri pondok tempat saya menimba ilmu, tetapi karna kisah inspiratif tokoh pada buku ini yang sangat amat banyak memberikan pengajaran dan motivasi. Faktor penghambat terbesar itu dari diri kita sendiri. Jadi, sebelum melakukan sesuatu maka sukai dan pahami dulu apa yang ada pada hal itu maka kamu akan mudah melakukannya jika didahului dengan niat.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen Dilema Nara

Ulasan Puisi