Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2024

Ulasan Puisi

Puisi "Hujan Bulan Juni"  karya   Sapardi Djoko Damono   merupakan salah satu karya   sastra   yang sangat populer di Indonesia. Penggunaan kata-kata yang sederhana namun sarat makna, menjadikan puisi ini dapat menggugah perasaan dan mempengaruhi banyak pembacanya. Dalam artikel ini, kita akan mengungkap makna mendalam yang terkandung dalam puisi ini dan mengapa karya ini begitu populer. “Hujan Bulan Juni” merupakan sebuah puisi pendek karya sastrawan Indonesia bernama Sapardi Djoko Damono yang dimuat dalam kumpulan puisi “Perahu Kertas” yang diterbitkan pada tahun 1995. Puisi ini menggambarkan suasana hujan yang turun pada bulan Juni. Hujan yang turun pada bulan Juni sendiri merupakan metafora dari perasaan cinta yang mengalir dalam hati. Dalam puisi ini, Sapardi menciptakan suasana yang melankolis dan menggugah perasaan pembaca. Puisi “Hujan Bulan Juni” menciptakan gambaran tentang hujan yang turun pada bulan Juni, yang mengisyaratkan keindahan dan kelembutan ...

Syair

Dia telah menanam cinta Serta rasa mendalam hati dan jiwa Membuat gundah yang mengalaminya Gelisah dan akhirnya dirasa Dia juga telah mengukir nama Terlukis hebat di dalam jiwa Rindu jadi selalu membawa Hati terbakar gegara asmara Tak perlulah kau menabur cinta Ini hanya akan membuat luka Jika akhirnya kita tak bersama Tak seperti janji kita saat kala

Mantra

  Mantra untuk mengobati orang dari pengaruh makhluk halus Sihir lontar pinang lontar terletak diujung bumi Setan buta jembalang buta aku sapa tidak berbunyi  

Pantun

  Kalau tuan bawa keladi Bawa juga si pucuk rebung Kalau tuan bijak bestari Apa binatang tandung di hidung

Cerpen Dilema Nara

  DILEMA NARA Karya: Alya Khalisah   Nara  terbangun karena sinar matahari menembus jendela kamarnya yang entah sejak kapan terbuka. Sejenak, ia hanya menatap langit-langit kamar. Matanya masih terasa sembab, sisa tangisan tadi malam. Kemudian, nara bangun dan duduk disisi ranjang kecilnya. Gadis itu memandang sekeliling kamar, dan tiba-tiba, suara pecahan kaca terdengar dari luar. Nara menutup kedua telinganya kuat-kuat, enggan mendengar apa pun. Setetes bening air matanya bergulir di pipi. Wajahnya dibenamkan dalam kedua telapak tangan yang lemah. Rasanya ia sudah tak sanggup lagi hidup dalam situasi seperti ini. Ia tak kuat hidup dalam lingkaran kesedihan yang menggiringnya menuju kegilaan. Nara berjalan perlahan ke luar rumah, di antara jalanan sepi sambil menundukkan kepala seolah malu dunia melihatnya. Ia menatap siluet hitamnya di antara bayang bayang pepohonan dan rumah. Nara berhenti melangkah saat seseorang menghalangi bayangannya. “Ada yang ingin kukataka...